Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2019

Menerima Kekurangan

Sadar tidak bahwa sebagian dari kita adalah penerima, dan sebagiannya lagi adalah penolak. Menerima dengan lapang dada. Menolak yang tak sesuai. Ini berbicara tentang pandangan. Mewajibkan kesempurnaan, padahal kita yakini bahwa tak ada yang sempurna selain Zat Yang Maha Menyempurnakan. Kita pandai menilai diri sendiri. Syukurlah, karena tak menghadirkan kebohongan dalam jiwa. Melihat ke dunia luar, akan ada yang terus berwacana. Mengaku sebagai pemain handal dalam menguasai diri yang lain. Masih belum mengerti dengan manusia? Sudah ditakdirkan memiliki kekurangan dan kelebihan. Masih dibutakan oleh produk kefanaan? Sadarlah! Kita sama-sama manusia, tetapi mengapa saling menandingi? Melombakan nafsu yang merajalela. Memboroskan waktu dengan permainan. Mata menelaah di balik kacamata. Ingat pesanku, kawan. Tak mengapa kita serba kekurangan. Kita hanya perlu mengubah cara pandang. Menjadikan kekurangan sebagai pelengkap dari kelebihan. Kau pusingkan dirimu, mereka tak m...

Menjadi Sadar

Kita diberi nasihat oleh mereka. Menjadi masukan untuk diri yang mungkin saja sudah melampaui batas. Berjalan dengan angkuh, menolak segala macam perkataan. Kita menutup telinga dari pembicaraan. Menyelisik lorong kenyamanan yang tanpa sadar menjerumuskan diri pada kenistaan. Kerap menutup mata untuk kedamaian, membuka mata untuk kejahatan. Oh… sepertinya kata itu terlalu berlebihan, namun kurasa itu benar ada. Hanya mengangkat suara demi kedudukan, lalu bungkam atas nama perbedaan. Menjadi sadar. Apa yang aku bicarakan? Ya, kita lupa akan itu. Merasa tenang dalam kenyataan, yang nyatanya sedang terlelap dengan mimpi yang dusta. Terbang dari satu tempat ke tempat lainnya. Mengepakkan sayap yang dihiasi kefanaan. Berbalik arah ke titik nista. Bersuara memanggil pendukung. Menjadi sadar. Aku mengatakannya lagi. Sebab memanglah kita harus sadar. Tak tenggelam pada laut nafsu, terbawa arus yang membabi buta. Terdampar di tepian luka yang siap untuk menganga. Maka,...

Nalar dan Nurani

Kita tak sepaham bukan karena saling membunuh, melainkan sedang ada peran dari nalar dan nurani. Bermain bersama raga, jiwa yang akan selalu menunggu. Kita tahu bahwa kadang atau justru seringkali saling menyalahkan. Beradu argumen demi mencukupi ego masing-masing. Kita menjatuhkan kawan dengan nalar, mengesampingkan nurani. Maka, setelah kejadian peperangan luka. Kita kembali dengan penyesalan yang menyisakan tanda Tanya. Memerangi nurani dengan nalar yang terkesimak akan kejadian. Kawan, kadang kita lupa dengan nurani. Bahwa sebenarnya diri kita membutuhkan suara darinya. Bukan karena kita menunduk padanya. Sebab kita benar membutuhkan saat-saat sepi bersama diri kita sendiri. Kawan, nalar akan terus berjalan. Akan selalu hadir dalam setiap hal. Bahkan ketika kau tak menginginkannya. Ia akan mengajarimu arti dari kedewasaan. Mengambil pelajaran dari berbagai kejadian. Nalar mendatangimu, nurani menantikanmu. Dan di saat kau sendiri, kau adalah sebenar-benarnya k...