Langsung ke konten utama

Nalar dan Nurani


Kita tak sepaham bukan karena saling membunuh, melainkan sedang ada peran dari nalar dan nurani. Bermain bersama raga, jiwa yang akan selalu menunggu.

Kita tahu bahwa kadang atau justru seringkali saling menyalahkan. Beradu argumen demi mencukupi ego masing-masing. Kita menjatuhkan kawan dengan nalar, mengesampingkan nurani.

Maka, setelah kejadian peperangan luka. Kita kembali dengan penyesalan yang menyisakan tanda Tanya. Memerangi nurani dengan nalar yang terkesimak akan kejadian.

Kawan, kadang kita lupa dengan nurani. Bahwa sebenarnya diri kita membutuhkan suara darinya. Bukan karena kita menunduk padanya. Sebab kita benar membutuhkan saat-saat sepi bersama diri kita sendiri.

Kawan, nalar akan terus berjalan. Akan selalu hadir dalam setiap hal. Bahkan ketika kau tak menginginkannya. Ia akan mengajarimu arti dari kedewasaan. Mengambil pelajaran dari berbagai kejadian.

Nalar mendatangimu, nurani menantikanmu. Dan di saat kau sendiri, kau adalah sebenar-benarnya kau. Cobalah untuk jujur pada diri sendiri. Nuranilah yang kau butuhkan. Menjadi diri sendiri. Menjadi manusia.

Si Pulang



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Berjuang, Kak

Malang-Bandung perjalanan lima belas jam.    Kembali bekerja,    mengabdikan diri. Kupikir aku akan baik-baik, sedikit bulir dari mata.    Nyatanya, kita saling merindu    pada masa kemarin. Maka, biarlah rindu itu hadir Tak akan membudakkan           Di pagi yang tengah malam ini,           aku menitip pesan untuknya,           kepada saudaraku yang sama-sama berjuang. Semangat berjuang, kak!

Menjadi Manusia (1)

Tak sempurna bukan berarti rendah. Jika kelebihan yang meninggikanmu, ‘apakah kebanggaan itu harus hadir dalam dirimu? Merasa kecil di semua mata, bukan berarti kita tak bisa ‘apa-apa’. Seringkali kita melihat kekurangan diri. Menyalahkannya karena tak bisa sepaham dengan pandangan. Sekali, duakali, tak apa. Sebagai waktu untuk diri sendiri. Lantas, bagaimana jika ia berputar balik? Kita menolak diri sendiri. Karena kita yang menyembunyikan diri di balik ketidaksempurnaan. Jika mereka menolakmu, tak usah kau mundur. Sebab itu menjatuhkanmu. Terimalah, lalu jadikan asupan jiwa. Karena merekalah yang membuatmu kuat. Kita menunduk pada apa yang kita percayai , maka percayalah pada dirimu sendiri. Beri kesempatan untuknya agar bisa bekerja dengan alam. Bahwa kau tak akan kalah oleh pandangan. Teruntuk kamu, Jiwa-jiwa yang sedang menyembuhkan rasa. Raga-raga yang lelah karena berjuang. Kau adalah manusia kuat itu.        ...

Batas Imajinasi

Dingin, suhu di pagi hari Tak ada bedanya dengan tempo itu    Aku hanya bersuara    Menggambar dalam bayangan    Aku ingin menangis,    dengan  rentang waktu yang lama Kupejamkan mataku, mencerna apa-apa yang kutahu Samar-samar yang terdengar Semakin membawa suasana               Aku,               aku merenung. Si P ulang