Kita tak sepaham bukan karena saling
membunuh, melainkan sedang ada peran dari nalar dan nurani. Bermain bersama
raga, jiwa yang akan selalu menunggu.
Kita tahu bahwa kadang atau justru
seringkali saling menyalahkan. Beradu argumen demi mencukupi ego masing-masing.
Kita menjatuhkan kawan dengan nalar, mengesampingkan nurani.
Maka, setelah kejadian peperangan
luka. Kita kembali dengan penyesalan yang menyisakan tanda Tanya. Memerangi
nurani dengan nalar yang terkesimak akan kejadian.
Kawan, kadang kita lupa dengan
nurani. Bahwa sebenarnya diri kita membutuhkan suara darinya. Bukan karena kita
menunduk padanya. Sebab kita benar membutuhkan saat-saat sepi bersama diri kita
sendiri.
Kawan, nalar akan terus berjalan.
Akan selalu hadir dalam setiap hal. Bahkan ketika kau tak menginginkannya. Ia
akan mengajarimu arti dari kedewasaan. Mengambil pelajaran dari berbagai
kejadian.
Nalar mendatangimu, nurani
menantikanmu. Dan di saat kau sendiri, kau adalah sebenar-benarnya kau. Cobalah
untuk jujur pada diri sendiri. Nuranilah yang kau butuhkan. Menjadi diri
sendiri. Menjadi manusia.
Si
Pulang
Komentar
Posting Komentar