Langsung ke konten utama

Menerima Kekurangan


Sadar tidak bahwa sebagian dari kita adalah penerima, dan sebagiannya lagi adalah penolak. Menerima dengan lapang dada. Menolak yang tak sesuai. Ini berbicara tentang pandangan. Mewajibkan kesempurnaan, padahal kita yakini bahwa tak ada yang sempurna selain Zat Yang Maha Menyempurnakan.

Kita pandai menilai diri sendiri. Syukurlah, karena tak menghadirkan kebohongan dalam jiwa. Melihat ke dunia luar, akan ada yang terus berwacana. Mengaku sebagai pemain handal dalam menguasai diri yang lain.

Masih belum mengerti dengan manusia? Sudah ditakdirkan memiliki kekurangan dan kelebihan. Masih dibutakan oleh produk kefanaan? Sadarlah!

Kita sama-sama manusia, tetapi mengapa saling menandingi? Melombakan nafsu yang merajalela. Memboroskan waktu dengan permainan. Mata menelaah di balik kacamata.

Ingat pesanku, kawan. Tak mengapa kita serba kekurangan. Kita hanya perlu mengubah cara pandang. Menjadikan kekurangan sebagai pelengkap dari kelebihan. Kau pusingkan dirimu, mereka tak mengubrisnya. Berhenti saling menilai, mari mulai evaluasi.

Mari, saling memahami. Sama-sama manusia. Sama-sama punya hati.

Si Pulang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Berjuang, Kak

Malang-Bandung perjalanan lima belas jam.    Kembali bekerja,    mengabdikan diri. Kupikir aku akan baik-baik, sedikit bulir dari mata.    Nyatanya, kita saling merindu    pada masa kemarin. Maka, biarlah rindu itu hadir Tak akan membudakkan           Di pagi yang tengah malam ini,           aku menitip pesan untuknya,           kepada saudaraku yang sama-sama berjuang. Semangat berjuang, kak!

Menjadi Manusia (1)

Tak sempurna bukan berarti rendah. Jika kelebihan yang meninggikanmu, ‘apakah kebanggaan itu harus hadir dalam dirimu? Merasa kecil di semua mata, bukan berarti kita tak bisa ‘apa-apa’. Seringkali kita melihat kekurangan diri. Menyalahkannya karena tak bisa sepaham dengan pandangan. Sekali, duakali, tak apa. Sebagai waktu untuk diri sendiri. Lantas, bagaimana jika ia berputar balik? Kita menolak diri sendiri. Karena kita yang menyembunyikan diri di balik ketidaksempurnaan. Jika mereka menolakmu, tak usah kau mundur. Sebab itu menjatuhkanmu. Terimalah, lalu jadikan asupan jiwa. Karena merekalah yang membuatmu kuat. Kita menunduk pada apa yang kita percayai , maka percayalah pada dirimu sendiri. Beri kesempatan untuknya agar bisa bekerja dengan alam. Bahwa kau tak akan kalah oleh pandangan. Teruntuk kamu, Jiwa-jiwa yang sedang menyembuhkan rasa. Raga-raga yang lelah karena berjuang. Kau adalah manusia kuat itu.        ...

Batas Imajinasi

Dingin, suhu di pagi hari Tak ada bedanya dengan tempo itu    Aku hanya bersuara    Menggambar dalam bayangan    Aku ingin menangis,    dengan  rentang waktu yang lama Kupejamkan mataku, mencerna apa-apa yang kutahu Samar-samar yang terdengar Semakin membawa suasana               Aku,               aku merenung. Si P ulang