Kita diberi nasihat oleh mereka.
Menjadi masukan untuk diri yang mungkin saja sudah melampaui batas. Berjalan
dengan angkuh, menolak segala macam perkataan.
Kita menutup telinga dari
pembicaraan. Menyelisik lorong kenyamanan yang tanpa sadar menjerumuskan diri
pada kenistaan.
Kerap menutup mata untuk kedamaian, membuka
mata untuk kejahatan. Oh… sepertinya kata itu terlalu berlebihan, namun kurasa
itu benar ada. Hanya mengangkat suara demi kedudukan, lalu bungkam atas nama
perbedaan.
Menjadi sadar. Apa yang aku bicarakan?
Ya, kita lupa akan itu. Merasa tenang dalam kenyataan, yang nyatanya sedang
terlelap dengan mimpi yang dusta.
Terbang dari satu tempat ke tempat
lainnya. Mengepakkan sayap yang dihiasi kefanaan. Berbalik arah ke titik nista.
Bersuara memanggil pendukung.
Menjadi sadar. Aku mengatakannya
lagi. Sebab memanglah kita harus sadar. Tak tenggelam pada laut nafsu, terbawa
arus yang membabi buta. Terdampar di tepian luka yang siap untuk menganga.
Maka, akan aku beritahu tentang ini;
tak ada kursi yang nyaman, jika yang duduk tak bisa diam. Tak akan ada tinggi,
jika rendah kau hinakan. Sadarlah…
Si
Pulang
Komentar
Posting Komentar