Langsung ke konten utama

Menjadi Sadar


Kita diberi nasihat oleh mereka. Menjadi masukan untuk diri yang mungkin saja sudah melampaui batas. Berjalan dengan angkuh, menolak segala macam perkataan.

Kita menutup telinga dari pembicaraan. Menyelisik lorong kenyamanan yang tanpa sadar menjerumuskan diri pada kenistaan.

Kerap menutup mata untuk kedamaian, membuka mata untuk kejahatan. Oh… sepertinya kata itu terlalu berlebihan, namun kurasa itu benar ada. Hanya mengangkat suara demi kedudukan, lalu bungkam atas nama perbedaan.

Menjadi sadar. Apa yang aku bicarakan? Ya, kita lupa akan itu. Merasa tenang dalam kenyataan, yang nyatanya sedang terlelap dengan mimpi yang dusta.

Terbang dari satu tempat ke tempat lainnya. Mengepakkan sayap yang dihiasi kefanaan. Berbalik arah ke titik nista. Bersuara memanggil pendukung.

Menjadi sadar. Aku mengatakannya lagi. Sebab memanglah kita harus sadar. Tak tenggelam pada laut nafsu, terbawa arus yang membabi buta. Terdampar di tepian luka yang siap untuk menganga.

Maka, akan aku beritahu tentang ini; tak ada kursi yang nyaman, jika yang duduk tak bisa diam. Tak akan ada tinggi, jika rendah kau hinakan. Sadarlah

Si Pulang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Berjuang, Kak

Malang-Bandung perjalanan lima belas jam.    Kembali bekerja,    mengabdikan diri. Kupikir aku akan baik-baik, sedikit bulir dari mata.    Nyatanya, kita saling merindu    pada masa kemarin. Maka, biarlah rindu itu hadir Tak akan membudakkan           Di pagi yang tengah malam ini,           aku menitip pesan untuknya,           kepada saudaraku yang sama-sama berjuang. Semangat berjuang, kak!

Menjadi Manusia (1)

Tak sempurna bukan berarti rendah. Jika kelebihan yang meninggikanmu, ‘apakah kebanggaan itu harus hadir dalam dirimu? Merasa kecil di semua mata, bukan berarti kita tak bisa ‘apa-apa’. Seringkali kita melihat kekurangan diri. Menyalahkannya karena tak bisa sepaham dengan pandangan. Sekali, duakali, tak apa. Sebagai waktu untuk diri sendiri. Lantas, bagaimana jika ia berputar balik? Kita menolak diri sendiri. Karena kita yang menyembunyikan diri di balik ketidaksempurnaan. Jika mereka menolakmu, tak usah kau mundur. Sebab itu menjatuhkanmu. Terimalah, lalu jadikan asupan jiwa. Karena merekalah yang membuatmu kuat. Kita menunduk pada apa yang kita percayai , maka percayalah pada dirimu sendiri. Beri kesempatan untuknya agar bisa bekerja dengan alam. Bahwa kau tak akan kalah oleh pandangan. Teruntuk kamu, Jiwa-jiwa yang sedang menyembuhkan rasa. Raga-raga yang lelah karena berjuang. Kau adalah manusia kuat itu.        ...

Batas Imajinasi

Dingin, suhu di pagi hari Tak ada bedanya dengan tempo itu    Aku hanya bersuara    Menggambar dalam bayangan    Aku ingin menangis,    dengan  rentang waktu yang lama Kupejamkan mataku, mencerna apa-apa yang kutahu Samar-samar yang terdengar Semakin membawa suasana               Aku,               aku merenung. Si P ulang